DUKUNG TERUS KAMI UNTUK TETAP MENJADI MEDIA REFERENSI TERPERCAYA

Jumat, 20 Januari 2012

Rencana Pengembangan

Berpegang pada falsafah “hidup yang berkualitas adalah ketika kehadiran kita bisa memberikan manfaat bagi orang-orang yang ada dilingkungan kita, khususnya bagi mereka yang membutuhkan”. Pustaka Ken Dee yang tergabung dalam keluarga besar Sahabat Andalas Groups [SAG] mempersembahkan ke hadapan kita semua sebuah media referensi sederhana dengan link sementara http://pustakakendee.blogspot.com
Dengan rencana pengembangan Insya Allah:
- Menjadi website dengan domain : www.pustakakendee.net
- Menjadi referensi untuk esai, artikel, makalah, jurnal, skripsi, tesis, dan disertasi serta karya tulis ilmiah lainnya yang bisa dipelajari dan didownload secara cuma-cuma.
- Akan perupaya memperbaharui dan menambah koleksi kebutuhan dokumen-dokumen yang dibutuhkan.
- Akan menjalin kerjasama dengan semua pihak yang akan mendukung pengembangan Pustaka Ken Dee.
- Menjamin keaslian sumber postingan.

Untuk semua dana dan segala kebutuhan pengembangan Pustaka Ken Dee kami menerima donasi dari sumber yang tidak mengikat dari para donatur yang terhormat. Kepada para donatur yang telah dengan senang hati membantu, kami ucapkan terima kasih. Tidak lupa juga ucapan terima kasih kami kepada para pengunjung setia yang telah mampir dan berbagi di Pustaka Ken Dee dan menjadikan kami berada pada halaman pertama web broser.

Terima kasih ya Robbi, penguasa langit bumi.
Salam dari kami Tim Pengelola

Makalah Ekonomi Mikro – Hubungan Antara Perilaku Konsumen dengan Segmentasi Pasar

PENDAHULUAN
Dalam ilmu ekonomi, secara luas konsumen di definisikan sebagai pengguna barang ataupun jasa. Sedangkan pasar juga dapat diartikan sebagai tempat bertemunya antara pembeli dan penjual yang menawarkan barang ataupun jasa sehingga terjadi proses jual beli.
Tidak lepas dan karakter individu konsumen, namun perilaku tersebut juga muncul karena gaya komunikasi produk, image building, trend an beragam hal lainnya. Namun ada benang merah yang bisa ditarik dan beragam konsumen yang ada dan dikelompokkan menjadi satu konsumen dengan ciri tertentu. Penggolongan konsumen berdasar ciri-ciri tertentunya sering disebut dengan perilaku konsumen.
konsumen memiliki karakter dan perilaku yang berbeda tergantung dan beragam aspek. Pasar di dunia modern semakin luas pengelompokannya, namun masih tetap bisa dikenali dengan pengelompokan pasar berdasar ciri-ciri tertentu.
Seringkali pengelompokan pasar ini disebut sebagai segmentasi pasar yang sangat berguna bagi para manager pemasaran untuk menjual produk ataupun jasanya pada pasar yang sesuai. Untuk itu penting sekali bagi para akademisi terlebih-lebih bagi para praktisi untuk mengenal segmentasi pasar dan perilaku konsumen pada pasar tersebut agar barang ataupun jasa yang akan ditawarkan bisa diterima dengan baik.
Maka makalah ini akan membahas secara umum mengenai hubungan antara perilaku konsumen dengan segmentasi pasar.
A. Perilaku Konsumen
Perilaku konsumen adalah bagaimana individu membuat keputusan untuk menggunakan sumber daya mereka yang telah tersedia untuk mengkonsumsi suatu barang. Perilaku konsumen adalah tingkah laku dan konsumen, dimana mereka dapat mengilustrasikan pencarian untuk membeli, menggunakan, mengevaluasi dan memperbaiki suatu produk dan jasa mereka.
Wujud konsumen:
Personal Consumer : Konsumen ini membeli atau menggunakan barang atau jasa untuk penggunaannya sendiri.
Organizational Consumer : Konsumen ini membeli atau menggunakan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan dan menjalankan organisasi tersebut
1. Perkembangan Teori Perilaku Konsumen
Perkembangan teori perilaku konsumen didasarkan pada teori ekonomi, yakni yang menjelaskan bahwa seorang konsumen akan menetapkan kuantitas komoditas yang dikonsumsi dengan cara memaksimalkan kepuasan (utilitas).
Ceteris paribus atau preferensi dan variabel yang lain dianggap tetap atau konstan. Pada saat menentukan kuantitas tersebut, konsumen dihadapkan pada kendala pendapatan dan harga komoditas. Maka preferensi dan selera (taste) terkait dengan psikologi manusia, maka beberapa ahli mengembangkan teori perilaku konsumen dengan memasukkan elemen-elemen psikologi dalam pengambilan keputusan konsumen.
Oleh karena teori perilaku konsumen yang berkembang pada abad 20 adalah dengan menerapkan prinsip-prinsip psikologi dan ekonomi. Sebagaimana diuraikan oleh Sumarwan (2004) bahwa perkembangan tersebut tidak lepas dan pengaruh ilmuwan seperti George Katona, Robert Ferker, John A Howard dan Jogdish N Sheth.
2. Manfaat Perilaku Konsumen
Perilaku konsumen sangat beragam tergantung pada pemanfaat atau pengguna. terdapat dua kelompok pemanfaat: kelompok peneliti (riset) dan kelompok yang berorientasi implementasi (Peter dan Olson, 1999).
Peran perilaku konsumen bagi pemasar atau produsen adalah mampu:
Membujuk konsumen untuk membeli produk yang dipasarkan.
Memahami konsumen dalam berperilaku, bertindak dan berpikir, agar pemasar atau produsen mampu memasarkan produknya dengan baik.
Memahami mengapa dan bagaimana konsumen mengambil keputusan, sehingga pemasar atau produsen dapat merancang strategi pemasaran dengan baik.
Peran perilaku konsumen bagi lembaga pendidikan dan perlindungan konsumen:
Untuk mengetahui dan mempengaruhi konsumen; yakni untuk membantu konsumen dalam memilih komoditas dengan benar, terhindar dan penipuan serta menjadi konsumen yang bijaksana.
Peran perilaku konsumen bagi organisasi pemerintah dan politik:
Dalam hal ini pemerintah berkewajiban untuk mempengaruhi pilihan konsumen melalui pelarangan terhadap produk bisnis yang merugikan konsumen.
Sebagai dasar perumusan kebijakan publik dan perundang-undangan untuk melindungi konsumen.
Kelompok konsumen individu maupun organisasi akan menukarkan sumberdaya yang dimiliki untuk memenuhi kebutuhannya. Sehingga dan perilaku konsumen dapat membantu mencapai tujuan dalam pemenuhan kebutuhan berbagai macam produk. Ditinjau dari pengambilan keputusan, konsumen terdiri atas konsumen potensial .Calon konsumen dan konsumen yang sudah melakukan pembelian.
B. Segmentasi Pasar
Jarang seorang pemasar dapat memuaskan setiap orang dipasar, oleh karena itu, pada pemasar memulai dengan segmentasi pasar dimana pemasar mengidentifikasi dan membedakan kelompok – kelompok pembeli yang mungkin Iebih menyukai atau memerlukan berbagai produk dan bauran sasaran.
Segmentasi pasar dapat juga didefinisikan sebagai kegiatan membagi-bagi pasar atau market yang bersifat heterogen kedalam satuan-satuan pasar yang bersifat homogen. Dan segmentasi pasar sebagai suatu proses pembagian pasar keseluruhan menjadi kelompok-kelompok pasar yang terdiri dan orang-orang yang secara relatif memiliki kebutuhan produk yang serupa.
Segmentasi yang Iengkap membutuhkan biaya yang tinggi, dan kebanyakan pelanggan tidak dapat membeli produk yang benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan. Untuk itu, perusahaan mencari kelas-kelas pembeli yang Iebih besar dengan kebutuhan produk atau tanggapan membeli yang berbeda-beda. Segmen pasar terdiri dari kelompok pelanggan yang memiliki seperangkat keinginan yang sama.
Dengan menggolongkan atau mensegmentasikan pasar, dapat dikatakan bahwa secara umum perusahaan mempunyai motivasi untuk mempertahankan dan meningkatkan tingkat penjualan dan yang Iebih penting lagi agar operasi perusahaan am jangka panjang dapat berkelanjutan dan kompetitif.
1. Manfaat yang lain dengan dilakukannya segmentasi pasar
Perusahaan akan dapat mendeteksi secara dini dan tepat mengenai kecenderungan-kecenderungan dalam pasar yang senantiasa berubah.
Dapat mendesign produk yang benar-benar sesuai dengan permintaan pasar.
Dapat menentukan kampanye dan periklanan yang paling efektif.
Dapat mengarahkan dana promosi yang tersedia melalui media yang tepat bagi segmen yang diperkirakan akan menghasilkan keuntungan yang lebih besar.
Dapat digunakan untuk mengukur usaha promosi sesuai dengan masa atau periode-periode dimana reaksi pasar cukup besar.
Adapun Manfaat segmentasi pasar Gitosudarmo (2000):
Dapat membedakan antara segmen yang satu dengan segmen lainnya.
Dapat digunakan untuk mengetahui sifat masing-masing segmen.
Dapat digunakan untuk mencari segmen mana yang potensinya paling besar.
Dapat digunakan untuk memilih segmen mana yang akan dijadikan pasar.
2. Kelemahan-kelemahan dan tindakan segmentasi itu sendiri
Biaya produksi akan lebih tinggi, karena jangka waktu proses produksi lebih pendek.
Biaya penelitian/ riset pasar akan bertambah searah dengan banyaknya ragam dan macam segmen pasar yang ditetapkan.
Biaya promosi akan menjadi Iebih tinggi, ketika sejumlah media tidak menyediakan diskon.
Kemungkinan akan menghadapi pesaing yang membidik segmen serupa.
Bahkan mungkin akan terjadi persaingan yang tidak sehat, misalnya kanibalisme sama produsen untuk produk dan segmen yang sama.
3. Jenis-jenis variabel segmentasi
Dalam hubungan ini dapat diklasifikasikan jenis-jenis variabel segmentasi bagai berikut:
Segmentasi geograf, Segmentasi ini membagi pasar menjadi unit-unit geografi yang berbeda, seperti negara, propinsi, kabupaten, kota, wilayah, daerah atau kawasan. Jadi dengan segmentasi ini, pemasar memperoleh kepastian kemana atau dimana produk ini harus dipasarkan.
Segmentasi Demografi, Segmentasi ini memberikan gambaran bagi pemasar kepada siapa produk ini harus ditawarkan. Jawaban atas pertanyaan kepada siapa dapat berkonotasi pada umur, jenis kelamin, jumlah anggota keluarga, siklus kehidupan keluarga seperti anak-anak, remaja, dewasa, kawin belum kawin, keluarga muda dengan satu anak, keluarga dengan dua anak, keluarga yang anak-anaknya sudah bekerja dan seterusnya. Dapat pula berkonotasi pada tingkat penghasilan, pendidikan, jenis pekerjaan, pengalaman, agama dan keturunan misalnya: Jawa, Madura, Bali, Manado, Cina dan sebagainya.
Segmentasi Psikografi, pada segmentasi ini pembeli dibagi menjadi kelompok-kelompok berdasarkan:
1) Status sosial,
misalnya: pemimpin masyarakat, pendidik, golongan elite, golongan menengah, golongan rendah
2) Gaya hidup
misalnya: modern, tradisional, kuno, boros, hemat, mewah dan sebagainya.
3) Kepribadian
misalnya: penggemar, pecandu atau pemerhati suatu produk.
Segmentasi Tingkah Laku, segmentasi tingkah laku mengelompokkan pembeli berdasarkan pada pengetahuan, sikap, penggunaan atau reaksi mereka terhadap suatu produk.
Banyak pemasar yakin bahwa variabel tingkah laku merupakan awal paling balk untuk membentuk segmen pasar.
4. Manfaat yang dicari
Segmentasi yang ampuh adalah mengelompokkan pembeli menurut manfaat berbeda yang mereka cari dan produk. Segmentasi manfaat menuntut ditemukannya manfaat utama yang dicari orang dalam kelas produk, jenis orang yang mencari setiap manfaat dan merek utama yang mempunyai setiap manfaat. Perusahaan dapat menggunakan segmentasi manfaat untuk memperjelas segmen manfaat yang mereka inginkan, karakteristiknya serta merek utama yang bersaing.
5. Status Pengguna
Pasar dapat disegmentasikan menjadi kelompok bukan pengguna, mantan pengguna, pengguna potensial, pengguna pertama kali dan pengguna regular dan yaitu produk. Pengguna potensial dan pengguna regular mungkin memerlukan himbauan pemasaran yang berbeda.
6. Tingkat Pemakaian
Pasar dapat juga disegmentasikan menjadi kelompok pengguna ringan, menengah dan berat. Jumlah pengguna berat sering kali hanya persentase kecil dari seluruh pasar, tetapi menghasilkan persentase yang tinggi dan total pembelian. Pengguna produk dibagi menjadi dua bagian sama banyak, sebagian pengguna ringan dan sebagian lagi pengguna berat menurut tingkat pembelian dan produk spesifik.
7. Status Loyalitas
Sebuah pasar dapat juga disegmentasikan berdasarkan loyalitas konsumen. Konsumen dapat loyal terhadap merek, toko dan perusahaan. Pembeli dapat dibagi menjadi beberapa kelompok menurut tingkat loyalitas mereka. Beberapa konsumen benar-benar loyal, mereka selalu membeli satu macam merek. Kelompok lain agak loyal, mereka loyal pada dua merek atau lebih dan satu produk atau menyukai satu merek tetapi kadang-kadang membeli merek lain. Pembeli lain tidak menunjukkan loyalitas pada merek apapun. Mereka mungkin ingin sesuatu yang baru setiap kali atau mereka membeli apapun yang diobral.
8. Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Melakukan Segmentasi
Pengusaha yang melakukan segmentasi pasar akan berusaha mengelompokkan konsumen kedalam beberapa segmen yang secara relatif memiliki sifat-sifat homogen dan kemudian memperlakukan masing-masing segmen dengan cara atau pelayanan yang berbeda.
Seberapa jauh pengelompokkan itu harus dilakukan, nampaknya banyak faktor yang terlebih dahulu perlu dicermati diantaranya adalah:
Variabel-Variabel Segmentasi, sebagaimana diketahui bahwa konsumen memiliki berbagai dimensi yang dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan segmentasi pasar.
Penggunaan dasar segmentasi yang tepat dan berdaya guna akan lebih dapat menjamin keberhasilan suatu rencana strategis pemasaran.
C. Perilaku Konsumen dan Segmentasi Pasar
Dalam proses pemasaran, segmentasi tidak berdiri sendiri. Kotler menandaskan bahwa segmentasi merupakan kesatuan dengan targeting dan positioning. Kotler menyingkat hubungan ini sebagai STP (Segmenting, Targeting, Positioning). Proses ini rupakan bagian dan penciptaan dan penyampaian nilai kepada konsumen
Kata “ nilai “ memberi arti tersendiri yaitu memberi kenikmatan bagi konsumen era menerima pelayanan yang baik, harga yang memuaskan, citra yang kuat, penyampaian tepat waktu, maka tindakan produsen memilih nilai melalui pemilihan segmentasi, targeting, positoning (STP) yang baik.
1. Tujuan
Tujuan diadakannya segmentasi pasar oleh produsen adalah agar perusahaan dapat lebih baik memahami perilaku segmen-segmen pasar yang lebih homogen sehingga dapat lebih baik dalam melayani kebutuhan-kebutuhan mereka.
Selain itu, apabila pasar terlalu luas dan perilaku sangat beragam, perusahaan dapat memilih satu atau beberapa segmen pasar saja.
2. Pentingnya segmentasi pasar
Pentingnya segmentasi pasar akan membawa manajer kedalam hal yang lebih anus yaitu minat masyarakat yang selalu berubah-ubah sehingga, para manajer di dituntut untuk tetap bisa memuaskan pelanggan dengan inovasi-inovasi baru. Karena tanpa di pungkiri saingan yang datang silih berganti dan menawarkan produk terbaru dengan inovasi barn sesuai dengan trend zaman sekarang.
3. Manfaat
Manfaat adanya pemahaman dan kejelasan atas perilaku konsumen, sebuah perusahaan akan menghasilkan segmentasi pasar yang lebih jelas dan terspesialisasi. Adapun alasan utama mempelajari perilaku konsumen adalah untuk mengetahui dasar-dasar persegmentasian pasar yang efektif.
KESIMPULAN
Konsumen memiliki karakter dan perilaku yang berbeda tergantung dan beragam aspek namun masih tetap bisa dikenali dengan pengelompokan pasar berdasar ciri-ciri tertentu dan hubungan antara perilaku konsumen dengan segmentasi pasar.
Ada keterkaitan yang sangat erat antara perilaku konsumen dengan segmentasi pasar. Dengan adanya analisa yang tepat mengenal perilaku konsumen terhadap suatu produk atau jasa maka bisa dipetakan dengan teliti segmen pasar yang akan dijadikan sasaran nantinya.
Dengan memahami perilaku konsumen maka segmentasi pasar dapat terpetakan dengan baik yang akan memungkinkan untuk bisa menjual produk atau jasa dengan tepat sasaran.
DAFTAR PUSTAKA
Peter dan Olson, 1996. Perilaku Konsumen dan Strategi Pemasaran. D. Sihombing (penerjemah). Consumen Behavior. Gelora Aksara Pratama. Jakarta.
Mangkunegara, A.P. 2002. Perilaku Konsumen. Edisi Revisi. Refika Aditama. Jakarta.
Philip Kotler dan Kevin Lane Keller, 2007. Manajemen Pemasaran. PT.Index.Jakarta.
Sumarwan, U. 2004. Perilaku Konsumen. Ghalia Indonesia. Jakarta Sutisna, 2002. Perilaku Konsumen dan Strategi Pemasaran, Rosdakarya, Bandung.

Sumber: http://tugas2kuliah.wordpress.com

Pemanfaatan Bunga Deposito untuk Biaya Hidup di Kecamatan Danau Kerinci Menurut Hukum Islam

B A B I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Didalam Islam dikenal ada doktrin tentang riba dan pengharamannya, Islam tidak mengenal sistem perbankan modern dalam arti praktis, sehingga terjadi perbedaan pendapat. Berbeda pandangan dalam menilai persoalan ini akan berakibat timbulnya berbagai kesimpulan hukum yang berbeda pula, dalam hal boleh tidaknya dan halal haramnya.
Dunia perbankan dengan sistem bunga kelihatannya semakin mapan dalam perekonomian modern, sehingga hampir tidak mungkin menghindarinya, apalagi menghilangkannya. Bank pada saat ini merupakan suatu kekuatan ekonomi masyarakat modern.
Bank menurut Undang-Undang pokok perbankan No. 14 Tahun 1967 adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya memebrikan kredit dan jasa-jasa lalu lintas pembayaran serta peredaran uang .
Dari satu segi tuntutan keberadaan bank itu dalam masyarakat untuk mengatur lalu lintas keuangan, dilain pihak masalah ini dihadapkan dengan keyakinan yang dianut oleh umat Islam, yang sejak awal keberadaan agama Islam telah didoktrinkan bahwa riba itu haram hukumnya. Seperti penjelasan Allah SWT dalam surat Ali imran ayat 130 :

ياايهاالذين امنوالاتأكلواالربوااضعافامضعفةواتقواالله لعلكم تفلحون.
(ال عمران:130)
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS. Ali Imran : 130)

Perbankan yang ada di Kabupaten Kerinci saat sekarang ini, menggunakan sistem bunga, yang mana bunga tersebut masih diragukan status hukumnya, apakah haram atau halal.
Dalam ayat diatas sudah ada ketegasan tentang larangan memakan riba. Namun tetap terdapat perbedaan pendapat. Bila berlipat ganda haram hukumnya dan bila tidak diperbolehkan (tidak dilarang). Sebagian ulama ada yang berpendirian, bahwa riba itu tetep haram walaupun tidak berlipat ganda. Kata-kata berlipat ganda dalam ayat tersebut, hanya menyatakan peristiwa (kejadian) yang pernah terjadi dimasa jahiliyah dan jangan dipahami mafhum mukhlafahnya, yaitu sekiranya tidak berlipat ganda, berarti tidak haram (dibolehkan) . Oleh karena adanya perbedaan pendapat tersebut masyarakat memandang bahwa bunga bank merupakan suatu hal yang wajar yang diperoleh oleh para nasabah bank apalagi masyarakat yang masih awam dalam memahami ajaran Islam, dia merasa hal itu tidak dilarang oleh Islam.
Kegiatan perbankan dalam masyarakat Kerinci pada umumnya dan masyarakat Danau kerinci pada khususnya, agaknya mampu memberikan pelayanan dan bantuan yang cukup terhadap penghidupan masyarakat yang sebahagian besar berpenghasilan sebagai petani. Sebahagian penduduk ada yang hasil panen mereka dijual dan uangnya dikumpul dan disimpan di bank dalam jumlah yang banyak. Namun apabila hasil panen mereka gagal dan mereka tidak memperoleh hasil dari panen mereka, maka mereka memanfaatkan jasa perbankan melalui bunga dari uang yang didepositokan di bank untuk membantu biaya hidup mereka. Ada lagi sebagian masyarakat yang masih menginjak pendidikan perkuliahan yang menggunakan bunga deposito sebagai penambah biaya studinya.
Realita yang terjadi pada sebagian penduduk Danau kerinci yang memanfaatkan jasa perbankan melalui bunga deposito juga terlihat pada sebahagian masyarakat yang mengadu nasib mereka di Malaysia. Mereka mendeposito atau menabung uangnya di bank yang ada di Sungai penuh. Bagi mereka yang berhasil mengadu nasib di Malaysia mereka menyimpan uang di bank dalam jumlah yang cukup banyak hingga puluhan juta. Mereka yang pergi ke Malaysia untuk mengadu nasib, rela meninggalkan anak mereka pada keluarga atau saudaranya. Untuk memenuhi kebutuhan sang anak tersebut selama ditinggalkan, maka dipungutlah bunga deposito dari uang yang ditabung di bank seperti untuk biaya pendidikan, biaya hidup dan lain sebagainya selama orang tuanya di Malaysia. Berdasarkan permasalahan tersebut diatas membuat penulis tertarik untuk membahas lebih lanjut tentang bunga deposito dan permasalahannya serta menuangkannya dalam sebuah karya ilmiah yang berbentuk skripsi dengan judul : “PEMANFAATAN BUNGA DEPOSITO UNTUK BIAYA HIDUP DI KECAMATAN DANAU KERINCI DITINJAU DARI HUKUM ISLAM”
B. Pembatasan Masalah
1. Bagaimana praktek pemanfaatan bunga deposito di masyarakat Danau kerinci ?
2. Bagaimana tanggapan masyarakat Danau Kerinci terhadap praktek pemanfaatan bunga deposito ?
3. Bagaimana pandangan Hukum Islam terhadap pemanfaatan bunga deposito untuk biaya hidup pada masyarakat Danau kerinci ?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui bagaimana sebenarnya praktek bunga deposito yang terjadi dimasyarakat Danau kerinci.
2. Untuk mengetahui bagaimana tanggapan masyarakat Danau kerinci terhadap pemanfaatan bunga deposito ?
3. Untuk mengetahui bagaimana pandangan Hukum Islam terhadap pemanfaatan bunga deposito pada masyarakat Danau Kerinci ?
D. Kegunaan Penelitian
Apabila tujuan-tujuan tersebut diatas tercapai dengan baik, maka pembahasan skripsi ini dapat digunakan untuk :
1. Sumbangsih penulis kepada para pembaca semuanya, dan setidak-tidaknya sebagai penambah koleksi bacaan perpustakaan STAIN Kerinci.
2. Menjadi batu loncatan bagi para pembaca untuk meneliti dan menggali lebih jauh lagi tentang bunga deposito yang dilakukan oleh masyarakat Danau kerinci.
3. Untuk memberikan suntikan moril kepada masyarakat tentang bunga deposito dan permasalahannya.
4. Kelengkapan syarat penyelesaian studi pada STAIN Kerinci.
E. Kerangka Pikir
Salah satu tema kemanusiaan yang dicanangkan dalam Al-Qur’an adalah pelarangan riba. Riba tidak hanya dilarang oleh agama Islam, tetapi juga oleh agama-agama lain, yahudi dan Nasrani. Bukan hanya etika agama mengutuknya, tetapi juga etika filosofis seperti filsafat Yunani. Dengan demikian, disamping diketahui bahwa Al-Qur’an tidak sendirian dalam menampilkan sikap kerasnya terhadap riba, diketahui pula bahwa usia riba sudah tua.
Praktek riba yang terjadi pada zaman sekarang dalam hal muamalah berbentuk bank. Bank sebagaimana badan-badan usaha lainnya bertujuan untuk mencari keuntungan. Kegiatan yang dilakukan oleh bank diantaranya memeberikan kredit dan jasa-jasa dalam lalulintas pembayaran serta peredaran uang.
Kontoversi menyangkut bunga bank, disatu pihak ia dapat dimasukkan kedalam riba, dipihak lain keberadaan bank dalam segala konsekwensinya tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Secara individual hubungan yang satu dengan yang lainnya tidak ada, tetapi bukanlah terbatas samapai disitu saja, melainkan terletak pada kepercayaan antara peminjam dengan pihak lembaga perbankan yang menjamin uang para penabung, hal ini sangat cocok dengan apa yang dikemukakan oleh R. Tjiptonugroho dalam bukunya perbankan ia mengatakan sebagai berikut : “ Faktor kepercayaan merupakan potensi yang harus dimiliki secara mutlak bagi kehidupan perbankan, dengan kepercayaan masyarakat atau menitipkan keuangannya kepada bank memberi hidup dan nafas kepada bank untuk menjalankan operasional aktifnya.”
Berbagai informasi tentang keadaan masyarakat ketika Al-Qur’an turun akan memudahkan memahami pesan-pesan Al-Qur’an secara tepat. Firman Allah SWT yang melarang tegas tentang keharaman riba yaitu dalam surat Ar-Rum : 39 merupakan ayat yang pertama kali turun mengenai riba, yang berbunyi :
الذ ين يأ كلو نالر بوالا يقو مو نا الا كما يقوم الذي يتخبطه الشيطن من المس
ذلك بانهم قالواانماالبيع مثل الربواواحل الله البيع وحرم الربوافمن جاءه موعظة مربه فانتهى فله ماسلف وامره الىالله ومن عاد فأولبك اصحب النارهم فيهاخلدون. (البقره:275)
Artinya : Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertamabah pada harta manusia, maka riba itu tidak menamabah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya). (QS. Ar-Rum : 39)

Berbicara masalah bunga deposito yang digunakan oleh masyarakat Danau kerinci ada beberapa pendapat dikalangan para ulama ataupun cendikiawan muslim yang mengaharamkan pemanfaatan bunga deposito dan ada yang memandang hal itu masih mutasyabihat, diantaranya :
1. Abu Zahrah, Abu A’ala al-Maududi, M. Abdullah al-arabi dan Yusuf qardhawi menagtakan bahwa bunga bank (deposito) dilarang oleh Islam, oleh sebab itu umat Islam tidak boleh bermuamalah dengan bank yang memakai sistem bunga kecuali dalam keadaan darurat (terpaksa). Diantara ulama tersebut, Yusuf qardhawi tidak mengenal istilah “darurat atau terpaksa” tetapi secara mutlak beliau mengharamkannya.
2. Majlis Tarjih Muhammadiyah bunga bank yang diberikan oleh bank kepada nasabahnya atau sebaliknya, termasuk syubhat atau mutasyabihat artinya belum jelas halal haramnya sesuai dengan petunjuk hadist Rasulullah kita harus berhati-hati dalam menghadapi hal-hal yang masih syubhat.
F. Hipotesis
Menurut hemat penulis mengenai bunga deposito yang dipraktekkan dalam masyarakat Kecamatan Danau Kerinci untuk kepentingan biaya hidup sehari-hari adalah termasuk riba. Hal itu dikarenakan masyarakat mengambil kelebihan ataupun bunga dari uang yang mereka simpan di bank. Jadi pemakaian bunga tersebut sudah termasuk riba dan hukumnya sesuai dengan apa yang diterangkan dalam Al-Qur’an dan sunnah Nabi yaitu haram.
G. Prosedur Penelitian
1. Lingkup Penelitian
Penelitian ini berada dalam batasan wilayah Kecamatan Danau Kerinci, walaupun demikian dengan tidak mengabaikan lembaga terkait, maka penelitian ini berpusat pada masyarakat Danau Kerinci yang menggunakan jasa perbankan yaitu deposito serta instansi-instansi terkait yang ada di Danau Kerinci.
2. Jenis Data
Jenis data yang akan dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer berupa informasi yang berhubungan dengan pemanfaatan bunga deposito pada masyarakat Danau Kerinci. Sedangkan data sekunder berupa persentase masyarakat yang menabung di bank dan dokumen lainnya yang berkaitan dengan pembahasan atau masalah yang diteliti.
3. Sumber Data
Sumber data yang mungkin dimanfaatkan adalah masyarakat dan lembaga. Masyarakat yang dijadikan sumber data meliputi orang yang menabung atau mendepositokan uangnya di bank, para ulama, dan pihak-pihak yang berkompeten dikantor Camat Danau Kerinci juga dijadikan sumber data.
4. Populasi dan Sampling
Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat Danau Kerinci yang terdiri dari 14 desa yang ada di kecamatan Danau Kerinci diantara desa tersebut adalah : Talang kemulun, Koto baru Sanggaran agung, Sanggaran agung, Pendung Talang Genting, Koto tengah Seleman, Seleman, Tebing tinggi, Cupak, Simpang empat tanjung tanah, Tanjung tanah, Koto salak, Koto petai, Ujung pasir dan Koto iman.karena jumlah populasi ini cukup banyak, maka penulis merasa penting untuk menetapkan sampel, sehingga penelitian yang dilakukan dapat memperoleh hasil yang jelas. Adapun yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah tiga buah desa yaitu :
a. Koto Salak
b. Koto Petai
c. Koto Iman
Adapun alasan penulis mengambil sampel tiga buah desa tersebut dikarenakan setelah dilakukan penciuman lapangan, terlihat bahwa di desa tersebut ada sebahagian penduduk yang menggunakan jasa perbankan. Berdasarkan pengamatan yang penulis lakukan ada sekitar sepuluh kepala keluarga dalam satu desa tersebut yang menggunakan jasa perbankan dan memanfaatkan bunga bank sebagai biaya hidup mereka. Dan juga dikarenakan desa-desa tersebut berdekatan letaknya, sehingga memudahkan penulis untuk mengadakan penelitian.
5. Methode Pengumpulan Data
Jenis penelitian yang dilakukan adalah :
Field Research (penelitian lapangan) yaitu penelitian yang penulis lakukan langsung dilapangan. Sedangkan methode pengumpulan datanya adalah :
a. Interview (wawancara) yaitu sebagai proses tanya jawab secara lisan terhadap dua orang atau lebih tentang permasalahan yang diteliti yaitu dengan ulama dan masyarakat.
b. Observasi yaitu suatu teknis peneyelidikan dengan cara mengamati, melihat dan mendengar pada objek-objek penelitian yaitu masyarakat Danau Kerinci.
c. Angket (Questionnaire) yaitu membuat pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan masalah yang diteliti, kemudian diserahkan kepada responden untuk memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut.
6. Analisa Data
a. Induktif
Suatu cara yang digunakan dalam mengungkapkan atau memecahkan suatu masalah berdasarkan pendapatyang khusus, dan dari pendapat tersebut ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum.
b. Deduktif
Suatu cara yang digunakan dalam mengungkapkan suatu masalah yang diawali dengan mengemukakan pendapat-pendapat yang bersifat umum, kemudian dirumuskan menjadi suatu kesimpulan yang bersifat khusus.
c. Komperatif
Suatu cara pembahasan dengan membandingkan beberapa pendapat, kemudian diambil beberapa pebdapat yang lebih kuat alasannya. Dan bila memungkinkan, maka penulis juga akan mengemukakan pendapat sendiri.

Sumber: http://www.stainkerinci.ac.id
Untuk lebih lengkap bisa email ke dee_nbl@yahoo.co.id

Syair Kumbang dan Melati: Suntingan Teks dan Analisis Simiotik

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Karya sastra daerah adalah hasil karya masyarakat Indonesia masa lampau. Menurut Mulyadi (1994:1), warisan kebudayaan tersebut ada yang dalam bentuk cerita rakyat yang diturunkan dari mulut ke mulut, dan ada yang berbentuk tulisan tangan (naskah).
Menurut Basuki (2004:4) naskah itu berisi berbagai nilai kehidupan seperti ajaran moral, tradisi, pedoman hidup, dll. Dengan kata lain naskah merupakan refleksi kehidupan masyarakat pada zamannya. Naskah-naskah klasik nusantara itu dapat dipandang sebagai salah satu hasil karya sastra sumber lokal yang paling otentik, dan dapat memberikan informasi sejarah dan pemikiran yang pernah berkembang pada kurun waktu tertentu (Bafadal, 2005:3). Begitu pula menurut Abdullah (2006:1) naskah-naskah klasik Nusantara itu sampai saat ini masih banyak tersimpan di berbagai tempat seperti perpustakaan, museum, baik di dalam maupun di luar negeri.
Dalam khazanah sastra klasik Nusantara terdapat naskah berjenis puisi atau syair. Jurji Zildan dalam Muzakki (2006:41) berpendapat bahwa syair berarti nyanyian (al-ghina), lantunan (insyadz), atau melagukan (tartil). Asal kata ini telah hilang dari Bahasa Arab, namun masih ada dalam bahasa lain seperti شور (syuur) dalam bahasa Ibrani yang berarti suara, bernyanyi, dan melantunkan lagu.
Herman J. Waluyo (1987:22) mengatakan, puisi (syair) adalah karya sastra yang bersifat imajinatif dengan bahasa bersifat konotatif (tersirat) karena banyak digunakan makna kias dan makna lambang (majaz), oleh karena itu bahasa yang dipakai memiliki kemungkinan makna, hal ini akan terjadi pengonsentrasian atau pemadatan bahasa dalam puisi, baik pada struktur fisiknya (luar) maupun pada struktur batinnya (dalam).
Menurut Sunarjo (2001:1) syair adalah salah satu jenis puisi Melayu lama yang terdiri atas empat larik dan berirama aa aa, setiap bait terdiri atas empat larik yang terdiri atas 9,10, atau 12 suku kata. Bait – bait dalam syair biasanya membentuk sebuah cerita.
Macam tema syair beragam bentuknya seperti syair bertema kepahlawanan, sosial, sejarah, keteladanan, dll, salah satunya ialah syair bertema romantik. Pada syair romantik biasanya dalam pemaparan alur cerita berbentuk prosa, karena prosa itu pada umumnya bersifat bercerita (Pradopo, 2005:12). Syair romantik merupakan cerita yang bahasanya puitis dan kadang-kadang sulit untuk dipahami maknanya selain itu sebagai cerita pelipur lara yang merupakan karya sastra masa lampau yang pada mulanya berbentuk sastra lisan sehingga jenis cerita tersebut bersifat perintang waktu dan menghibur belaka. Begitu pula menurut Waluyo (1991 : 32) aliran romantik menggambarkan kenyataan hidup dengan penuh keindahan. Jika yang dilukiskan kesedihan, maka pengarang ingin agar air mata terkuras. Sebab itu aliran romantik sering dikaitkan dengan sifat sentimental atau cengeng. Kecendrungan menggambarkan keindahan alam, bunga, sungai, tumbuhan, gunung, daun, dan bulan, didasarkan atas kepentingan memperindah kenyataan itu.
Syair bertema romantik itu adalah Syair Kumbang dan Melati (selanjutnya di sebut SKM). SKM ini disimpan di Perpustakaan Nasional RI Jakarta, bernomor Ml.7 (NBG 4(1866))R#477), dan tulisan yang digunakan ialah Arab-Melayu.
SKM berisi tentang nilai-nilai kehidupan yang relevan dengan perilaku masyarakat saat ini. Bahasa yang dipakai merupakan bahasa yang berirama dan lebih mengutamakan keindahan bunyi. Selain itu SKM merupakan puisi berjenis fabel tapi cara penceritaannya berjenis syair. Penokohan dalam cerita tersebut diperankan oleh binatang yang berperan sebagai manusia dalam menjalankan kehidupan (fabel). Fabel adalah dongeng tentang kehidupan yang diperankan oleh binatang. Dongeng ini dimaksudkan agar menjadi teladan bagi kehidupan manusia pada umumnya.
SKM menceritakan tentang pengorbanan seorang lelaki tampan yang harus menempuh seribu satu masalah dalam usahanya untuk mendapatkan cinta dari perempuan yang dikaguminya. Selain itu yang menonjol dalam cerita ini ialah Kumbang (lelaki) yang mengalami tekanan batin karena kasmaran pada Melati (perempuan). Teks ini dipaparkan dengan cara bercerita menyenangkan dan dapat membuat pembaca merasakan duka atau pun suka yang sedang dideritanya.
Alasan penulis memilih naskah SKM karena naskah ini berjenis fabel, cara penceritaannya berjenis syair bertema romantik, serta kandungan nilai pada teksnya sangat relevan dengan kehidupan saat ini. Penelitan ini berjudul “Syair Kumbang dan Melati : Suntingan Teks dan Analisis Semiotik”.

B. Rumusan Masalah
Permasalahan dalam skripsi ini adalah :
1 Bagaimana mendapatkan suntingan teks SKM ?
2 Makna dan nilai apa yang terkandung dalam teks SKM ?

C. Alasan Pemilihan Judul
Skripsi ini berjudul ”Syair Kumbang dan Melati : Suntingan Teks dan Analisis Semiotik” dengan alasan : 1) kandungan nilai dalam teks sangat relevan dengan kehidupan saat ini, 2) SKM merupakan naskah kuno yang ditulis dengan huruf dan bahasa yang pada umumnya masyarakat tidak mengerti, oleh karena itu perlu dilakukannya suntingan teks, 3) teks SKM banyak mengandung simbol-simbol yang harus diartikan maknanya.

D. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah :
1. Membuat suntingan teks SKM.
2. Mengungkap makna dan nilai yang terkandung dalam teks SKM.


E. Tinjauan Pustaka
Penelitian syair pada umumnya yang pernah diteliti ialah 1) syair Abdul Muluk yang berjudul Syair Abdul Muluk: Kajian Filologis, tahun 1994 yang ditulis oleh Maizar Karim. Penelitian ini sebagai tesis Pascasarjana UNPAD Bandung. 2) ”Suntingan Teks Syair Adham Dilengkapi Analisis Motif dan Tema Serta Amanat”, ditulis oleh Ringgeng Dwi Mulyani sebagai skripsi tahun 1989 pada FS UI Jakarta. 3) Syair Bidasari, ditulis oleh Tuti Munawar sebagai penerbitan Depdikbud Jakarta pada tahun 1978. 4) Syair Brama Sahdan, sebagai penelitian yang ditulis oleh Djantera Kawi pada tahun 1994 Depdikbud Jakarta. 5) Syair Cinta Berahi: Suntingan Naskah Analisis Struktur dan Fungsi. Sebagai skripsi yang ditulis oleh Heni Indriyani pada tahun 1994 di FS UNS Solo. 6) Syair Kembang Air Mawar: Suntingan Naskah Analisis Struktur dan Fungsi, ditulis pada tahun 1995 oleh Jarwadi di FS UNS Solo sebagai skripsi.7) Syair Ken Tambuhan, yang ditulis oleh A. Teeuw sebagai penelitian pada tahun 1966, yang diterbitkan di Kuala Lumpur. Dll.
Dalam Direktori Naskah Nusantara (Ekadjati, 2000:374) tercantum naskah Syair Kumbang dan Melati sudah pernah ada yang meneliti sebagai skripsi di Universitas Negeri Solo oleh Suprapto tahun 1997 dengan judul ”Syair Kumbang dan Melati : Suntingan Naskah dan Analisis Perkembangan Jiwa Tokoh Utama”. Namun penulis tidak menemukan skripsi tersebut, karena pada tanggal 26-27 Agustus 2008, tepatnya hari Selasa dan Rabu penulis mencari data tersebut guna mengetahui kandungan isi untuk dapat dibandingkan dengan penelitian penulis, penulis mencari di Perpustakaan Fakultas Sastra UNS yang dibantu oleh petugas perpustakaan. Skripsi tersebut tidak ditemukan, menurut petugas kemungkinan skripsi tersebut rusak atau hilang pada saat renovasi ruangan perpustakaan. Menurut kepala Perpustakaan Fakultas Sastra UNS, skripsi tersebut hilang dicuri oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

F. Landasan Teori
Permasalahan yang telah diuraikan di atas, diperlukan adanya landasan teori yang tepat. Teori merupakan alat terpenting dari suatu ilmu pengetahuan, tanpa teori hanya ada pengetahuan tentang serangkaian fakta saja (Koentjaraningrat, 1977:19). Oleh karena itu, di sini akan diuraikan teori sebagai jalan keluar permasalahan dalam penelitian ini yang meliputi teori filologi dan teori semiotika.
1. Teori Filologi
Teori pertama adalah teori filologi. Penelitian secara filologi dilakukan secara bertahap. Secara rinci langkah – langkah kerja penelitian ini adalah pertama, inventarisasi naskah yaitu kegiatan mengumpulkan naskah yang akan dijadikan objek penelitian. Naskah SKM tedaftar dalam Katalogus Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid 4. 1998. Disunting oleh T.E. Behrend penerbit Yayasan Obor Indonesia, naskah ini terdapat di Perpustakaan Nasional Jakarta. Bernomor Ml7 (NBG 4(1866)) R # 477] Rol MF 127.01), ditulis dalam tulisan Arab dan berbahasa Melayu. Kedua adalah membuat deskripsi ciri – ciri naskah dari segi keadaan naskah.
Setelah kedua tahap tersebut, kemudian dilakukan suntingan teks berupa transliterasi. Transliterasi adalah penggantian jenis tulisan, huruf demi huruf dari abjad yang satu ke abjad yang lain. Transliterasi sangat penting untuk memperkenalkan teks-teks lama yang tertulis dengan huruf daerah, karena kebanyakan orang sudah tidak akrab lagi dengan tulisan daerah. Dalam melakukan transliterasi perlu diikuti pedoman yang berhubungan dengan pemisahan, pengelompokan kata, serta ejaan dan pungtuasi (Bareid, 1994 : 63-64).
Metode penelitian yang dilakukan dalam skripsi menggunakan metode penyuntingan teks tunggal metode standar. Karena naskah ini dianggap sebagai cerita biasa, bukan cerita yang dianggap suci atau penting dari sudut agama dan sejarah sehingga tidak diperlakukan secara khusus atau istimewa (Djamaris 2004:24)
SKM merupakan karya sastra yang memiliki unsur – unsur terkait, tidak berdiri sendiri, dan memiliki makna di dalam hubungannya dengan unsur lain. Dengan demikian, untuk dapat mendapatkan makna teks SKM perlu dianalisis dengan teori semiotik.

2. Teori Semiotik
Teori kedua yang digunakan untuk mengungkap makna SKM, dalam penelitin ini penulis menggunakan teori semiotik Menurut Hartoko (1986:131), semiotik dari kata Yunani ”semeion” yang berarti tanda. Ilmu yang meneliti tanda – tanda, sistem–sistem tanda dan proses suatu tanda diartikan. Tanda adalah sesuatu yang menunjukkan kepada barang lain, yang mewakili barang lain itu. Tanda bersifat representatif. Tanda dan hubungan dengan dengan tanda – tanda lain, dengan barang yang dilambangkan, dan dengan orang yang memakai tanda itu. Bila ini diterapkan pada tanda–tanda bahasa, maka huruf, kata, dan kalimat tidak mempunyai arti pada dirinya sendiri, melainkan selalu sebagai relasi antara pengemban arti (signifiant), apa yang diartikan (signifie) bagi seorang (pembaca) yang mengenal sistem bahasa yang mengena sistem bahasa yang bersangkutan.
SKM sebagai karya sastra merupakan suatu struktur yang memiliki makna di dalam hubungannya dengan unsur lain. Dengan demikian, untuk dapat mengetahui makna menyeluruh teks SKM perlu dianalisis atas dasar pemahaman makna yaitu dengan teori semiotik. Pendekatan semiotik yang akan dipakai adalah semiotik model Michael Riffaterre, bahwa dalam memahami makna harus diawali dengan pembacaan semiotik yaitu pembacaan heuristik dan pembacaan hermeneutik. (Riffaterre 1978 : 5-6)

a. Pembacaan Heuristik
Pembacaan heuristik menurut Riffaterre (1978 : 5) merupakan pembacaan tingkat pertama untuk memahami makna secara lingustik yang menangkap arti sesuai dengan teks yang ada, dan diartikan dengan bahasa yang sesuai dengan teks. Pembaca harus memiliki kompetensi linguistik agar dapat menangkap arti (meaning).
Menurut Santosa (2004 : 231) bahwa pembacaan heuristik adalah pembacaan yang didasarkan pada konvensi bahasa yang bersifat mimetik (tiruan alam) dan membangun serangkaian arti yang heterogen atau tak gramatikal. Hal ini dapat terjadi karena kajian didasarkan pada pemahaman arti kebahasaan yang bersifat lugas atau berdasarkan arti denotatif dari suatu bahasa. Sedangkan Pradopo (2005 : 135) memberi definisi pembacaan heuristik yaitu pembacaan berdasarkan struktur bahasanya atau secara semiotik adalah berdasarkan konvensi sistem semiotik tingkat pertama.

b. Pembacaan Hermeneutik
Pembacaan hermeneutik menurut Riffaterre merupakan pembacaan tingkat kedua untuk menginterpretasikan makna secara utuh. Dalam pembacaan ini, pembaca harus lebih memahami apa yang sudah dia baca untuk kemudian memidifikasi pemahamannya tentang hal itu. (1987 : 5)
Pembacaan hermeneutik menurut Santosa (2004 : 234) adalah pembacaan yang bermuara pada ditemukannya satuan makna puisi secara utuh dan terpadu. Sementara itu, Pradopo (2005 : 137) mengartikan pembacaan hermeneutik sebagai pembacaan berdasarkan konvensi sistem semiotik tingkat kedua (makna konotasi). Pada tahap ini, pembaca harus meninjau kembali dan membandingkan hal-hal yang telah dibacanya pada tahap pembacaan heuristik. Dengan cara demikian, pembaca dapat memodifikasi pemahamannya dengan pemahaman yang terjadi dalam pembacaan hermeneutik.

G. Metode Penelitian
Adapun metode penelitian yang dilakukan pada skripsi ini ialah sebagai berikut :
1. Tahap Pengumpulan Data
Tahap pengumpulan data dalam penelitian ini adalah mengumpulkan data-data kepustakaan. Data yang dikumpulkan berupa buku-buku acuan yang berhubungan dengan masalah yang akan dibahas.
Data yang diperlukan dalam penelitian ini terdiri atas dua kategori yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Data primer berupa naskah SKM. Naskah SKM dikaji dan dipahami berdasarkan kata, frasa, kalimat, paragraf, dan peristiwa-peristiawa yang dijelaskan melalui tanda-tanda terentu. Data sekunder berfungsi untuk lebih memperjelas, menguatkan masalah yang akan dibahas.

2. Tahap Analisis Data
Tahap analisis data pertama kali yang dilakukan ialah mendeskripsikan naskah, selanjutnya mentransliterasi teks SKM, serta menyajikan teks. Hasil transliterasi ini sebagai data primer, sedangkan buku-buku pustaka, makalah, dan majalah yang berhubungan dengan objek penelitian adalah data sekunder.

3. Tahap Pemaparan Analisis Data
Tahap pemaparan analisis data yaitu dengan studi pustaka, terutama terhadap sumber-sumber tertulis yang berhubungan dengan pembahasan masalah kajian terhadap sumber tertulis ini dilakukan untuk memberikan studi analisis yang lebih dalam tentang isi teks. Dalam langkah analisis isi teks digunakan metode semiotik.
Langkah penelitian filologi yang dilakukan pada skripsi ini ialah; 1) inventarisasi naskah, 2) deskripsi naskah, 3) ringkasan isi cerita naskah, 4) suntingan teks berupa translitarasi, dan 6) glosarium.
Inventarisasi naskah adalah tahap pertama dalam pengumpulan data berupa naskah. Sumber data naskah ialah katalogus naskah yang terdapat di berbagai perpustakaan universitas, museum, instansi yang menaruh perhatian pada naskah, dan di kalangan masyarakat. Naskah Syair Kumbang dan Melati tercantum di katalogus Katalog Induk Naskah – Naskah Nusantara jilid 4 disunting oleh TE.Behrend, penerbit Yayasan Obor Indonesia. Tempat penyimpanan naskah terdapat di PNRI (Perpustakaan Nasional Republik Indonesia) Jakarta dengan nomor naskah Ml7.
Langkah selanjutnya yaitu deskripsi naskah. Naskah dideskripsikan dengan pola yang sama, yaitu nomor naskah, ukuran naskah, keadaan naskah, tulisan naskah, bahasa, kolofon, dan garis besar isi nasakah. Hal ini dilakukan untuk memudahkan tahap penelitian selanjutnya.
Setelah naskah dideskripsikan lalu dilakukan transliterasi dan suntingan teks. Transliterasi adalah alih aksara atau penggantian jenis aksara (yang umumnya belum begitu dikenal) dengan aksara dari abjad lain (yang sudah di kenal dengan baik) yaitu pengalihan huruf dari abjad Arab ke abjad Latin. Selanjutnya suntingan teks yang dilakukan dengan menggunakan metode suntingan naskah tunggal edisi standar yaitu menerbitkan naskah dengan membetulkan kesalahan-kesalahan kecil. Ketidakjelasan dan ejaan yang disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. Semua perubahan yang ada dicatat di tempat yang khusus agar dapat diperiksa dan diperbandingkan dengan bacaan naskah, sehingga masih memungkinkan dapat penafsiran lain oleh pembaca. Langkah yang terakhir adalah penulisan glosarium atau penulisan pada kata-kata yang dianggap sulit.
Teori yang dipakai dalam menganalisis teks SKM adalah teori semiotik. Pendekatan semiotik yang akan dipakai adalah semiotik model Michael Riffaterre, bahwa dalam memahami makna harus diawali dengan pembacaan semiotik yaitu pembacaan heuristik dan pembacaan hermeneutik.
H. Sistematika Penulisan
Sistematika dalam penelitian ini adalah bab satu adalah pendahuluan, yang terdiri dari latar belakang, masalah, alasan pemilihan judul, tujuan penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian, dan sistematika penulisan.
Bab dua adalah deskripsi naskah yang terdiri dari keadaan naskah, deskripsi naskah, dan singkatan teks SKM.
Bab tiga adalah suntingan teks, yang terdiri dari rumusan pedoman transliterasi Arab-Latin, transliterasi naskah dan aparatus kritik.
Bab empat adalah analisis semiotik dalam Syair Kumbang dan Melati, yang terdiri pembacaan heuristik, pembacaan hermeneutik, dan relevansi makna teks SKM terhadap masyarakat saat ini. Bab lima adalah penutup, yang terdiri dari simpulan dan saran.

Sumber: http://www.undip.ac.id/
Untuk lebih lengkap bisa email ke dee_nbl@yahoo.co.id